Tata Metal Lestari Bangun Pabrik Baja Hijau Berteknologi Italia Pertama di Asia Tenggara Senilai Rp1,5 Triliun
INDUSTRY.co.id - Purwakarta – PT Tata Metal Lestari kembali menegaskan perannya sebagai pemain kunci industri baja nasional dengan memulai pembangunan fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) berteknologi mutakhir di Plant Bulo, Kabupaten Purwakarta. Jawa Barat.
Proyek strategis senilai Rp1,5 triliun ini ditargetkan mulai commissioning pada Desember 2026 dan menjadi tonggak penting transformasi industri baja menuju era hijau dan berdaya saing global.
Vice President PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi menyebut, pembangunan CGL terbaru ini sebagai langkah konkret perusahaan dalam mendukung agenda industri hijau nasional sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.
“Kami membangun CGL dengan kapasitas awal 250 ribu ton per tahun. Ini akan melengkapi kapasitas Tata Metal menjadi 500 ribu ton, dan secara bertahap kami tingkatkan hingga 2,5 juta metric ton dalam 10 tahun ke depan,” ujar Stephanus.
Fasilitas CGL di Purwakarta ini menggunakan mesin state of the art dari Tenova, Italia, yang diklaim sebagai lini pertama di Asia Tenggara dengan teknologi pelapisan paling maju saat ini.
Teknologi tersebut memungkinkan proses pelapisan zinc magnesium serta zinc aluminium magnesium dengan sistem dual pot, yang mampu meningkatkan umur pakai baja hingga empat kali lipat dibandingkan baja konvensional.
Tak hanya unggul dari sisi kualitas, lini produksi ini juga telah dilengkapi burner yang mendukung penggunaan hidrogen, sehingga mampu menekan emisi karbon dan menghasilkan baja lapis rendah emisi—sejalan dengan kebijakan industri hijau dan dekarbonisasi nasional.
Keunggulan teknologi dan kualitas produk membuat baja lapis produksi Tata Metal semakin diminati pasar global. Saat ini, produk made in Purwakarta telah diekspor ke 25 negara, mulai dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, Eropa, Amerika Latin, hingga kawasan Asia Tenggara.
“Sekitar 30–40 persen produksi kami diekspor. Ke depan, peluang besar ada di pasar Eropa, terutama dengan adanya Free Trade Agreement Indonesia–Uni Eropa dan penerapan CBAM yang mendorong penggunaan baja rendah emisi,” jelas Stephanus.
Dari sisi kandungan lokal, PT Tata Metal Lestari mencatat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 62–64 persen, termasuk yang tertinggi di industri baja nasional. Sekitar 80–85 persen bahan baku dipasok dari produsen dalam negeri, termasuk PT Krakatau Steel.
“Kami tidak hanya mengejar volume, tapi kualitas dan nilai tambah. Ini strategi kami agar mampu bersaing dengan produk baja dari Tiongkok dan negara lain,” tegas Stephanus.
Selain meningkatkan kapasitas dan ekspor, proyek CGL ini juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi daerah. Tata Metal menargetkan penyerapan sekitar 350 tenaga kerja baru, dengan mayoritas berasal dari Kabupaten Purwakarta dan sekitarnya.
“Kami berharap pembangunan berjalan lancar dan dapat dikomisioning sesuai target pada akhir 2026,” pungkas Stephanus.
Dikesempatan yang sama, Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Dodiet Prasetyo menegaskan bahwa industri baja nasional memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, hingga penguatan industri otomotif, permesinan, galangan kapal, dan energi.
Berdasarkan data World Steel Association, pada 2024 Indonesia menempati peringkat ke-14 produsen crude steel dunia dengan produksi 17 juta ton. Angka ini melonjak 98,5 persen dibandingkan produksi tahun 2019 yang masih 8,5 juta ton.
Konsumsi baja nasional juga menunjukkan tren naik, dari 15,1 juta ton (2018) menjadi 17,6 juta ton (2023), dan diproyeksikan mencapai 19,6 juta ton pada 2025. Kebutuhan terbesar berasal dari Proyek Strategis Nasional (PSN) 2025–2029, khususnya pembangunan kawasan industri & KEK (12,4 juta ton) serta proyek konektivitas seperti jalan, rel, pelabuhan, dan bandara (8,9 juta ton).
“Peningkatan kapasitas melalui fasilitas CGL 2 ini menjadi langkah penting untuk mendukung hilirisasi industri, memperkuat kemandirian nasional, sekaligus sejalan dengan Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto,” ungkap Dodiet.