Belanja FMCG di E-Commerce Makin Kuat, SIRCLO Sebut Omnichannel Jadi Kunci Pertumbuhan Brand

Oleh : Hariyanto | Selasa, 09 Juni 2026 - 13:35 WIB

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pertumbuhan kategori fast moving consumer goods (FMCG) di kanal e-commerce Indonesia terus menunjukkan tren positif pada awal 2026. Berdasarkan laporan Compas.id, nilai penjualan FMCG nasional melalui e-commerce menembus lebih dari US$2,36 miliar pada kuartal I-2026, sekaligus mencetak rekor tertinggi baru dan melampaui capaian kuartal sebelumnya. Memasuki kuartal II-2026, nilai pasar FMCG e-commerce diproyeksikan tetap tinggi di kisaran US$2 miliar, mencerminkan pertumbuhan yang masih stabil setelah periode puncak belanja Ramadan.

Sejalan dengan tren tersebut, data internal SIRCLO menunjukkan bahwa volume pesanan kategori FMCG sepanjang April hingga Mei 2026 telah mencapai 85% dari total pesanan pada kuartal I-2026. Kondisi ini mengindikasikan permintaan pada sektor tersebut masih berpotensi meningkat pada kuartal II seiring semakin kuatnya pergeseran perilaku konsumen ke kanal digital.

Vice President of Account Management SIRCLO, Januarius Gunawan, mengatakan meningkatnya penggunaan platform online turut mengubah ekspektasi konsumen dalam berbelanja produk FMCG. Menurut dia, tantangan bagi pelaku usaha saat ini tidak lagi sekadar hadir di platform e-commerce, melainkan bagaimana mengelola berbagai kanal penjualan secara terintegrasi.

“Semakin besarnya pemanfaatan platform online dalam aktivitas belanja produk FMCG turut mengubah ekspektasi konsumen terhadap pengalaman berbelanja. Tantangannya bukan lagi sekadar hadir di e-commerce, tetapi bagaimana brand dapat mengelola berbagai kanal secara terintegrasi untuk memberikan pengalaman yang cepat, konsisten, dan tanpa hambatan,” ujar Januarius dalam keterangan resmi, Selasa (9/6).

Pertumbuhan tersebut didorong oleh semakin luasnya adopsi internet dan kebiasaan belanja daring di Indonesia. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan tingkat penetrasi internet pada 2025 telah mencapai 80,66% dari total populasi. Sementara itu, survei Jakpat mencatat sebanyak 92% responden telah melakukan transaksi online pada paruh kedua 2025.

Perkembangan tersebut membuat konsumen kini tidak hanya mencari produk, tetapi juga mengharapkan pengalaman belanja yang mulus dan konsisten di berbagai titik interaksi. Menurut Januarius, pendekatan omnichannel commerce menjadi semakin penting untuk mengintegrasikan berbagai kanal penjualan dalam satu ekosistem.

“Di sinilah pendekatan omnichannel commerce menjadi krusial, yakni bagaimana setiap kanal belanja dapat terhubung dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Keterhubungan ini hanya dapat terwujud dengan dukungan teknologi sebagai fondasi yang memungkinkan berbagai proses di balik layar, mulai dari pengelolaan pesanan lintas kanal, sinkronisasi stok, hingga pengaturan pengiriman, berjalan secara real-time dan tanpa hambatan,” jelasnya.

Baca Artikel Lainnya

Cara Menggunakan Teknologi AI untuk Meningkatkan Keamanan Siber

Datadog Tunjuk Karina Gunawan Pimpin Segmen Enterprise Indonesia di Tengah Lonjakan Adopsi AI

Serangan Siber ke Sektor Keuangan APAC Meningkat, Bank dan Fintech Hadapi Risiko yang Kian Kompleks

Implementasi strategi tersebut terlihat dari kolaborasi SIRCLO dengan Kopi Luwak White Koffie. General Manager PT Javaprima Abadi (Kopi Luwak White Koffie), Ronny Chandra, mengatakan kebutuhan menjaga kualitas layanan di ranah digital menjadi faktor penting mengingat kopi instan merupakan produk dengan frekuensi pembelian tinggi.

“Sebagai produk konsumsi harian, kopi instan memiliki frekuensi pembelian yang tinggi, sehingga standar pelayanan di ranah online menjadi faktor yang perlu dijaga secara konsisten. Hal ini dapat terwujud melalui kolaborasi awal kami bersama SIRCLO melalui pemanfaatan SIRCLO Commerce yang mendukung operasional e-commerce secara end-to-end, dan hingga hari ini kerja sama terus berkembang seiring dengan perlunya menangkap potensi pertumbuhan di luar Jabodetabek,” kata Ronny.

Melalui solusi SIRCLO Multi-Origin, Kopi Luwak White Koffie memperluas titik distribusi ke Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya untuk memenuhi permintaan dari berbagai wilayah. Sejak mulai menggunakan solusi tersebut pada Mei 2025, jumlah pesanan yang diproses melalui tiga pusat distribusi itu meningkat hingga 15 kali lipat pada Mei 2026.

Januarius menilai kolaborasi tersebut menunjukkan pentingnya dukungan teknologi dalam menghadapi perubahan perilaku konsumen. “Kolaborasi dengan Luwak White Koffie menunjukkan bagaimana kerja sama di balik layar mampu menjawab perilaku konsumen saat ini. Ke depan, brand akan terus dihadapkan tantangan perluasan kanal digital yang semakin beragam, sehingga dukungan mitra yang memiliki basis teknologi yang kuat serta pemahaman kondisi pasar semakin penting,” tutupnya.