BRIS Menguat Investor Cermati Valuasi Murah dan Keunggulan Dana Haji
INDUSTRY.co.id - Jakarta - Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mencatat penguatan dalam dua hari perdagangan terakhir, 9–10 Juni 2026, di tengah kondisi pasar saham domestik yang masih bergerak volatil akibat berbagai sentimen makroekonomi. Kenaikan tersebut menarik perhatian pelaku pasar karena terjadi saat sebagian besar saham perbankan masih menghadapi tekanan dari kenaikan suku bunga dan kekhawatiran perlambatan ekonomi.
Sejumlah analis menilai penguatan BRIS tidak terlepas dari kombinasi valuasi yang dinilai semakin menarik dan fundamental perusahaan yang terus menunjukkan perbaikan.
Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menilai Salah satu faktor yang menjadi perhatian investor adalah posisi BSI sebagai pengelola dana haji terbesar di Indonesia. Status tersebut memberikan akses terhadap sumber pendanaan yang relatif stabil dan berbiaya rendah, sebuah keunggulan yang sulit direplikasi oleh bank lain.
Di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang mendorong kenaikan biaya dana industri perbankan, keberadaan dana haji dan tabungan berbasis syariah menjadi penopang daya saing BSI. Dana tersebut cenderung lebih stabil dan tidak sensitif terhadap perubahan suku bunga dibandingkan deposito konvensional.
Kinerja penghimpunan dana BSI juga masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Per April 2026, Tabungan perseroan tercatat mencapai Rp165 triliun atau tumbuh 22,02% menjadi pertumbuhan tertinggi diantara Bank Himbara apabila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut mendukung peningkatan porsi dana murah (CASA), yang menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga biaya dana tetap kompetitif.
Selain faktor pendanaan, pelaku pasar juga menilai valuasi saham BRIS saat ini belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental perseroan. Dalam beberapa tahun terakhir, saham BRIS pernah diperdagangkan pada kisaran PBV 2 hingga 2,5 kali. Namun saat ini valuasinya berada di sekitar 1,5–1,6 kali PBV.
Padahal, dari kinerja perseroan justru terus bertumbuh. Hingga April 2026, laba bersih BSI mencapai Rp2,8 triliun atau meningkat 17,79% secara tahunan. Total aset tumbuh 12,17% menjadi Rp451 triliun, sementara pembiayaan naik 15,59% menjadi Rp332 triliun. Pada saat yang sama, DPK mencapai Rp382 triliun atau meningkat 17,9% secara tahunan.
Kondisi tersebut membuat sebagian investor mulai melihat BRIS sebagai saham yang diperdagangkan pada valuasi yang relatif murah dibandingkan prospek pertumbuhan bisnisnya.
Baca Artikel Lainnya
Cicil Emas BSI Makin Diminati, Meningkat Lebih dari 97,90% Setahun
BRI Raih Best Private Bank di Indonesia Versi Global Private Banker
RUPS 2026: Bank Mestika Jaga Kinerja Solid di Tengah Ketidakpastian Global
Sentimen lain yang turut menopang optimisme pasar adalah berkembangnya bisnis emas BSI. Sebagai bank syariah pertama yang memperoleh izin bullion bank di Indonesia, BSI memiliki posisi yang relatif unik dibandingkan perbankan nasional lainnya.
Kenaikan harga BBM sebesar 32% yang diumumkan pemerintah pada pekan ini diperkirakan akan meningkatkan ekspektasi inflasi. Dalam kondisi seperti itu, emas umumnya dipandang sebagai instrumen lindung nilai yang menarik bagi masyarakat maupun investor. Prospek kenaikan harga emas dinilai berpotensi memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan bisnis emas BSI yang dalam dua tahun terakhir menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru perseroan.
Di sisi lain, pasar juga merespons positif rencana buyback saham BUMN yang melibatkan sejumlah institusi domestik seperti Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, dan perusahaan asuransi milik negara. Meski belum secara spesifik menyasar BRIS, keberadaan skema tersebut dipersepsikan investor sebagai faktor yang dapat membantu menjaga stabilitas harga saham-saham BUMN di tengah tingginya volatilitas pasar.
Di tengah pasar yang masih mencari arah, BRIS menjadi salah satu saham perbankan yang kembali menarik perhatian investor. Valuasi yang lebih rendah dibandingkan beberapa tahun lalu, sementara fundamental terus menunjukkan perbaikan, membuat sejumlah analis tetap mempertahankan rekomendasi beli. Bagi pasar, kombinasi antara pertumbuhan, keunggulan pendanaan, dan eksposur terhadap bisnis emas menjadikan BRIS sebagai salah satu cerita investasi yang menarik untuk dicermati hingga akhir tahun.