Tekanan Biaya Produksi Meningkat, Industri Plastik Didorong Perkuat Efisiensi Operasional

Oleh : Hariyanto | Jumat, 12 Juni 2026 - 10:56 WIB

INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Industri plastik dan kemasan nasional masih menghadapi tekanan berat di tengah tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku serta berlanjutnya disrupsi rantai pasok global. Kondisi tersebut membuat pelaku industri semakin dituntut mencari ruang efisiensi untuk menjaga daya saing dan stabilitas produksi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor plastik dan turunannya mencapai sekitar US$ 2,55 miliar pada kuartal I 2026. Sebagian besar impor tersebut merupakan bahan baku yang menjadi kebutuhan utama sektor manufaktur plastik dalam negeri.

Di sisi lain, kinerja manufaktur nasional mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia terbaru tercatat meningkat, mengindikasikan stabilisasi aktivitas operasional setelah sebelumnya mengalami kontraksi. Namun demikian, industri masih dibayangi kenaikan biaya produksi akibat inflasi dan ketidakpastian rantai pasok global.

Presiden Direktur PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI) Syah Reza menilai efisiensi operasional menjadi aspek yang paling memungkinkan untuk segera dioptimalkan oleh pelaku industri guna meredam tekanan biaya.

“Upaya efisiensi operasional menjadi salah satu fokus yang dapat langsung dikendalikan para pelaku industri. Salah satu upaya efisiensi operasional ini dapat dilakukan melalui optimalisasi pelumasan sintetis, hal ini menjadi langkah strategis dan nyata untuk meningkatkan keandalan peralatan produksi, menekan downtime, meningkatkan efisiensi energi, menjaga stabilitas produksi, serta mengendalikan operasional secara lebih konsisten,” ujar Syah Reza dalam keterangannya, Kamis (11/6).

Menurut dia, optimalisasi sistem pelumasan kini menjadi semakin penting karena berkaitan langsung dengan performa mesin dan keandalan operasional pabrik. Pelumas sintetis dinilai mampu memberikan stabilitas yang lebih baik dibandingkan pelumas konvensional, terutama untuk mendukung kinerja mesin dalam jangka panjang.

EMLI mencatat lebih dari 60% kegagalan mesin dipicu oleh praktik pelumasan yang tidak tepat. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim pemeliharaan di sektor manufaktur yang harus memastikan peralatan tetap beroperasi optimal di tengah tuntutan produktivitas yang semakin tinggi.

Dari sisi efisiensi, penggunaan pelumas sintetis disebut mampu menurunkan suhu operasional mesin hingga 8,3 derajat Celsius sehingga dapat memperpanjang masa pakai pelumas hingga dua kali lebih lama. Selain itu, konsumsi energi berpotensi ditekan hingga 10%, sekaligus membantu memperpanjang usia pakai peralatan produksi.

Baca Artikel Lainnya

Harga Gas Mahal, Impor China Tak Terbendung! Industri Petrokimia RI Makin Sulit Bernapas

Respons Cepat Menperin Agus Gumiwang Pascaledakan Pabrik Kimia di Cilegon

ATONIK Rayakan 50 Tahun Perjalanan Dampingi Petani Indonesia

Manfaat lainnya adalah peningkatan keandalan peralatan yang berdampak pada berkurangnya limbah operasional dan penurunan paparan Human-Machine Interface (HMI) hingga puluhan ribu jam. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan produktivitas sekaligus aspek keselamatan kerja bagi tenaga operasional.

Untuk mendukung implementasi efisiensi tersebut, EMLI menawarkan layanan terintegrasi melalui MACHINEXT serta MobilSM Lubricant Analysis (MLA). Kedua layanan ini dirancang untuk melakukan pemantauan dan analisis kondisi pelumas maupun grease secara lebih akurat guna mendukung keandalan aset industri.

Di tengah tekanan biaya dan ketidakpastian pasokan bahan baku, optimalisasi penggunaan pelumas yang didukung sistem pemantauan yang tepat dinilai dapat menjadi salah satu strategi bagi industri plastik dan kemasan untuk menjaga efisiensi biaya, mempertahankan stabilitas produksi, serta memperkuat daya saing dalam jangka panjang.