WHA 2026: CISDI Serukan Kolaborasi Baru untuk Perkuat Layanan Kesehatan Primer
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Di tengah meningkatnya ketimpangan kesehatan global dan menurunnya kepercayaan terhadap sistem multilateral, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menggelar side event resmi dalam World Health Assembly (WHA) 2026 bertajuk “From Chaos to Care: Rebuilding the Global Health Architecture” di Jenewa, Swiss.
Forum diskusi publik itu mempertemukan berbagai aktor lintas sektor—mulai dari organisasi masyarakat sipil, lembaga multilateral, akademisi, hingga sektor swasta untuk membicarakan ulang bagaimana arsitektur kesehatan global dapat dibangun agar lebih tangguh, berkelanjutan, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Pendiri dan CEO CISDI, Diah Satyani Saminarsih, menegaskan bahwa desain ulang sistem kesehatan global harus berangkat dari realitas yang dihadapi komunitas di tingkat akar rumput.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah cara baru membangun kemitraan kesehatan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Solusi yang dibangun juga perlu menyesuaikan konteks lokal agar sistem kesehatan bisa lebih berkelanjutan dan benar-benar menjawab kebutuhan komunitas,” ujar Diah dalam diskusi panel.
Diskusi tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh kesehatan global, antara lain David Duong, Kumanan Rasanathan, Lutz Hegeman, Anita Sabidi, serta Mikaël Garnier-Lavalley.
Dalam forum itu, Diah menyoroti kondisi layanan kesehatan primer yang hingga kini masih menghadapi keterbatasan investasi dan dukungan kapasitas, padahal sektor tersebut menjadi fondasi utama sistem kesehatan yang tangguh.
Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN), Sudirman Said, menilai persoalan kesehatan global tidak lagi bisa diselesaikan oleh satu sektor semata.
“Universitas berperan penting sebagai penghubung antara realitas lokal dan pengetahuan global, agar solusi yang dibangun benar-benar relevan dengan kebutuhan masyarakat,” kata Sudirman dalam pesan pembuka yang disampaikan melalui video.
Pandangan serupa disampaikan Kumanan Rasanathan yang menekankan pentingnya pembelajaran dari praktik kolaborasi lintas sektor untuk membangun sistem kesehatan yang lebih efektif dan sesuai dengan konteks masing-masing negara.
“Kami bertanya, apa yang seharusnya menjadi fungsi dari arsitektur kesehatan global? Bagi sebagian besar negara, ini berkaitan dengan barang publik global. Kebutuhan akan inovasi, berbagi pengetahuan, dan penguatan kapasitas. Sudah saatnya kita menepati janji untuk bekerja sama dan berkolaborasi demi kesehatan global yang lebih baik,” kata Rasanathan.
Menurutnya, penguatan layanan kesehatan primer tidak bisa lagi bertumpu sepenuhnya pada pemerintah. Peran lembaga kesehatan global, perguruan tinggi, hingga sektor swasta dinilai semakin penting dalam menciptakan model kemitraan yang lebih berkelanjutan.
Sementara itu, David Duong dari Harvard Medical School menyoroti menurunnya kepercayaan publik terhadap sistem layanan kesehatan akibat minimnya pelibatan masyarakat yang memiliki lived experience.
“Kami telah menyaksikan begitu banyak laporan tentang kepercayaan terhadap sistem layanan kesehatan yang menurun secara signifikan, dimana kita gagal belajar dari orang dengan lived experience. Saya rasa dunia akademik seharusnya merefleksikan dirinya kembali sebagai pelindung kebenaran dan penyebar ilmu pengetahuan, ke depan kami perlu membawa mereka yang memiliki lived experience langsung ke garis terdepan untuk bersama-sama berkolaborasi dan membangun sistem layanan kesehatan yang lebih baik bagi semua," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, CISDI juga memperkenalkan Primary Healthcare Impact Lab (PHIL), sebuah model kolaborasi lintas sektor yang difokuskan pada penguatan layanan kesehatan primer di Indonesia.
PHIL dikembangkan bersama Universitas Harkat Negeri, PT Tamaris Hidro, dan Harvard Medical School sebagai ruang riset sekaligus laboratorium dialog lintas sektor berbasis konteks lokal. Diluncurkan pada 7 Mei 2026 di Jakarta, inisiatif ini berpusat di kampus UHN di Tegal, Jawa Tengah, dengan tujuan menjembatani penelitian akademik dan kebutuhan komunitas.
Melalui pendekatan berbasis lokasi, PHIL diharapkan mampu menghasilkan praktik kolaborasi yang dapat memberi masukan bagi kebijakan kesehatan di tingkat nasional.
Presiden Direktur PT Tamaris Hidro, Mohammad Syahrial, mengatakan tantangan global saat ini menunjukkan bahwa pendanaan internasional semakin terbatas sehingga penguatan sistem kesehatan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk sektor swasta.
“Kami bergabung dengan PHIL tidak sekadar untuk memberikan dukungan simbolis, tetapi berinvestasi pada kemitraan yang kami yakini mampu menjawab kesenjangan struktural dan memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat,” ucap Syahrial dalam pesan pembuka yang disampaikan melalui video.