Miss Tjitjih 1928 Angkat “Nyai Dasimah”, Refleksi Nasib Perempuan Pribumi di Masa Kolonial
INDUSTRY.co.id - Jakarta, Lampu panggung menyala. Tirai terbuka perlahan. Di tengah Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Kemayoran, kisah lama dari Batavia kembali menemukan suaranya. Melalui pementasan bertajuk “Nyai Dasimah”, Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 sukses menarik perhatian masyarakat dalam edisi spesial semarak HUT ke-499 Kota Jakarta yang digelar akhir pekan lalu.
Pementasan yang dapat dinikmati secara gratis ini merupakan bagian dari program rutin Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB), bekerja sama dengan Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928.
Kepala UP GPSB Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Rinaldi, mengatakan kehadiran pementasan tersebut merupakan bentuk komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam merawat keberagaman budaya yang tumbuh dan berkembang di ibu kota.
“Adapun jadwal pementasan rutin Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 yang bersifat gratis, dilakukan sesuai kesepakatan kerja sama bersama Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928 dengan tetap memperhatikan kemampuan keuangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” ujar Rinaldi.
Pementasan “Nyai Dasimah” menjadi pertunjukan rutin keempat yang digelar sepanjang 2026. Seluruh kursi yang tersedia, sebanyak 252 tempat duduk, terisi penuh oleh penonton yang datang dari berbagai kalangan.
“Pertunjukan dipadati oleh 252 penonton, sesuai dengan kapasitas kursi yang tersedia di gedung kesenian tersebut,” kata Rinaldi.
Lebih dari sekadar hiburan, kisah Nyai Dasimah menghadirkan refleksi tentang posisi perempuan pribumi pada masa kolonial Hindia Belanda. Sosok Dasimah digambarkan sebagai perempuan asal Bogor yang cantik, cerdas, dan berhati lembut.
Kehidupannya berubah ketika menjalin hubungan dengan seorang pria Inggris bernama Edward yang memberinya kehidupan berkecukupan di Batavia. Namun status sebagai “nyai” membuat Dasimah tak pernah benar-benar diterima oleh lingkungan sosialnya.
Di tengah pergulatan identitas dan tekanan masyarakat kolonial, ia kemudian bertemu Samiun, lelaki yang memanfaatkan keraguan dan kesepiannya melalui rayuan serta intrik asmara.
Keputusan meninggalkan Edward demi mengikuti Samiun menjadi titik balik yang membawa Dasimah pada perjalanan hidup penuh konflik, manipulasi, dan penyesalan.
Kisah yang berakhir tragis itu hingga kini tetap relevan sebagai gambaran ketimpangan sosial dan perjuangan perempuan menghadapi struktur kekuasaan.
Baca Artikel Lainnya
Yasintus Jaar, Penabuh Rindu Compang Cama: Pentas Caci Menjadi Nafas Diaspora Manggarai
Ketika Cambuk Menari di Tangsel: Rindu Diaspora Manggarai yang Kembali Pulang
Ribuan Diaspora Manggarai Hadir Menyaksikan Pentas Caci di Tangerang Selatan, Panitia: Ini Turnamen yang Menjahit Rindu Diaspora Manggarai
“Sebagaimana diketahui, kisah mengenai sosok Nyai Dasimah telah lama dikenal dalam dunia sastra dan seni pertunjukan di Indonesia. Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 yang bertajuk ‘Nyai Dasimah’ kali ini, sarat akan nilai sejarah dan refleksi sosial,” jelas Rinaldi.
Tingginya minat masyarakat terhadap pertunjukan tersebut terlihat dari data pemesanan tiket. Meski kapasitas gedung hanya mampu menampung 252 penonton, laman pemesanan e-tiket mencatat sedikitnya 15.261 interaksi.
“Pemesanan tiket dilakukan melalui sistem daring dengan masyarakat berebut 252 kursi penonton yang tersedia. Tercatat total 15.261 interaksi pada laman pemesanan tiket pertunjukan ‘Nyai Dasimah’ di Gedung Kesenian Miss Tjitjih,” papar Rinaldi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat urban. Bahkan, tidak sedikit warga yang tetap datang ke lokasi meski tidak berhasil memperoleh tiket, dengan harapan dapat mengisi kursi yang ditinggalkan pemegang tiket yang batal hadir.
“Animo masyarakat terhadap pertunjukan seni budaya begitu tinggi. Bahkan, tak jarang mereka yang tidak berhasil mendapat e-tiket tetap hadir langsung di gedung pertunjukan dengan berharap dapat mengisi bangku penonton pemilik e-tiket yang batal hadir,” ujarnya.
Menariknya, mayoritas penonton yang hadir berasal dari kalangan generasi muda, termasuk pelajar SMP dan SMA yang datang bersama orang tua atau wali mereka.
“Menariknya, penonton Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 umumnya generasi muda dan usia pelajar SMP dan SMA bersama orang tua atau wali mereka,” tambah Rinaldi.
Menurutnya, tingginya animo masyarakat menjadi bukti bahwa teater tradisional tidak kehilangan relevansinya. Selain menjadi sarana hiburan, pertunjukan seperti Miss Tjitjih juga berfungsi sebagai ruang edukasi budaya dan penguatan identitas multikultural Jakarta.
“Kami mengapresiasi minat penonton yang cukup tinggi pada pertunjukan ini, sehingga tidak semua dapat diakomodir. Direncanakan sepanjang tahun 2026, terdapat 10 kali pertunjukan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 yang bersifat gratis,” jelasnya.
Melalui panggung sederhana di Kemayoran, kisah Nyai Dasimah kembali berbicara kepada generasi hari ini. Sebuah pengingat bahwa sejarah, budaya, dan nilai kemanusiaan dapat terus hidup selama masih ada ruang untuk menceritakannya.
“Bersama kami menciptakan dan mengembangkan ekosistem berkesenian di Jakarta,” pungkas Rinaldi.