Satu Tahun Agustina–Iswar Pimpin Semarang, Fondasi Transformasi Kota Kian Menguat

Oleh : Hariyanto | Jumat, 06 Maret 2026 - 13:16 WIB

INDUSTRY.co.id - Semarang – Satu tahun kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin menjadi fondasi penting bagi percepatan pembangunan di Semarang pada tahun-tahun mendatang. Pasangan yang dikenal dengan sebutan Agustin–Iswar ini menunjukkan kinerja melalui berbagai capaian nyata yang dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Sepanjang tahun pertama masa kepemimpinannya, sejumlah langkah strategis ditempuh pemerintah kota, mulai dari percepatan pembangunan infrastruktur, penguatan layanan dasar, pemulihan dan penggerakan ekonomi daerah, hingga menghadirkan berbagai inovasi kebijakan. Berbagai upaya tersebut dilakukan di tengah sejumlah tantangan di lapangan, keterbatasan anggaran, serta persoalan klasik yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Meski demikian, capaian yang diraih menunjukkan perkembangan positif. Kota Semarang berhasil mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi di Jawa Tengah serta ketahanan fiskal yang dinilai mampu beradaptasi dengan kebijakan efisiensi nasional. Pemerintah kota juga mengusung visi pembangunan terpadu melalui lima tagline utama, yakni Semarang Bersih, Semarang Sehat, Semarang Cerdas, Semarang Makmur, dan Semarang Tangguh. Kelima konsep tersebut dirancang saling terintegrasi untuk membentuk siklus pembangunan berkelanjutan.

Implementasi visi tersebut menghasilkan berbagai capaian, mulai dari 25 penghargaan tingkat nasional dan regional hingga meningkatnya kepuasan masyarakat. Berdasarkan survei Litbang Kompas, tingkat kepuasan warga terhadap kinerja pemerintah kota mencapai 83,6 persen, sementara IPM tahun 2025 tercatat sebesar 85,80 yang masuk kategori sangat tinggi.

Kinerja pembangunan ini berjalan beriringan dengan dinamika fiskal daerah yang adaptif. Laporan realisasi Anggaran Tahun 2025 menunjukkan pendapatan daerah terealisasi sebesar 92,31 persen. Menariknya, sektor hiburan dan kuliner justru menjadi penopang utama pendapatan daerah ketika sektor akomodasi mengalami tekanan.

Data Pendapatan Asli Daerah (PAD) menunjukkan pajak hiburan mampu melampaui target hingga 106,38 persen dan pajak restoran mencapai 104,31 persen. Sementara itu, pajak hotel tercatat 79,10 persen dari target. Pada periode yang sama, sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) tercatat sebesar Rp186,9 miliar.

Menurut Agustina, capaian tersebut mencerminkan kekuatan ekonomi masyarakat yang mampu bertahan di tengah tekanan kebijakan efisiensi belanja pemerintah pusat melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025. “Angka-angka ini adalah cerminan nyata dari daya lenting (resilience) ekonomi warga yang luar biasa. Ketika belanja korporasi dan dinas pemerintah menyusut, daya beli masyarakat justru mengalir kuat ke sektor hiburan, kuliner, dan kreatif. UMKM dan pelaku ekonomi kreatif kitalah yang menjadi penyangga vital kota ini di masa penuh tantangan,” ujarnya.

Di sektor lingkungan, program Semarang Bersih diarahkan untuk membangun budaya baru pengelolaan sampah melalui gerakan “Semarang Wegah Nyampah”. Pemerintah kota memperkuat pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir dengan membentuk 1.074 unit bank sampah serta melibatkan lebih dari 35 ribu sumber daya masyarakat. Pada 2025, pengelolaan tersebut mampu menangani 221.299 ton sampah dan menghasilkan dampak ekonomi sirkular lebih dari Rp570 juta.

Upaya pelestarian lingkungan juga dilakukan melalui penghijauan lahan seluas 16,58 hektare dan penanaman 46.510 bibit pohon. Selain itu, tiga ruang terbuka hijau baru dibangun, yakni Taman RBRA Abdurrahman Saleh, Taman Garoot, dan Taman Dinar Mas Meteseh.

Di bidang kesehatan, program Semarang Sehat menekankan pendekatan ekosistem kesehatan yang terintegrasi. Kota Semarang bahkan meraih predikat Kota Paling Berkelanjutan Ketiga di Indonesia dalam pemeringkatan UI GreenMetric World University Rankings tahun 2025. Berbagai program kesehatan turut berkontribusi pada meningkatnya angka harapan hidup masyarakat hingga mencapai 78,72 tahun.

Pemerintah kota juga memperluas cakupan Universal Health Coverage (UHC). Jumlah peserta yang pada 2024 tercatat 98.261 orang meningkat menjadi 228.859 orang pada 2025. Selain itu, sejumlah fasilitas kesehatan dibangun atau direhabilitasi, termasuk empat puskesmas dan tiga puskesmas pembantu.

Program penanganan stunting juga menunjukkan hasil signifikan. Dari 5.480 kasus yang tercatat pada 2025, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 3.560 kasus melalui program daycare Rumah Pelita serta pendampingan intensif kepada keluarga. Dengan demikian, lebih dari dua ribu balita berhasil keluar dari kondisi kekurangan gizi.

Transformasi juga dilakukan di sektor pendidikan melalui program Semarang Cerdas. Pemerintah kota memperkuat reformasi birokrasi berbasis merit dan memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas layanan publik. Rata-rata lama sekolah masyarakat kini mencapai 11,11 tahun.

Berbagai bantuan pendidikan disalurkan kepada ribuan pelajar, mulai dari tingkat SD hingga SMA. Pemerintah kota juga menyelesaikan persoalan ijazah tertahan dengan menyerahkan 374 ijazah dari 36 sekolah kepada para pemiliknya.

Selain itu, dukungan infrastruktur pendidikan terus diperluas melalui pembangunan puluhan ruang kelas baru dan perbaikan ratusan ruang kelas di berbagai sekolah. Salah satu program unggulan yang mendapat perhatian luas adalah sekolah swasta gratis yang pada 2025 menjangkau 129 sekolah dengan anggaran Rp25,79 miliar dan direncanakan meningkat menjadi 135 sekolah pada 2026. Program ini berkontribusi menekan angka putus sekolah yang tercatat nol persen di tingkat SD dan hanya 0,01 persen di tingkat SMP.

Di sektor ekonomi, program Semarang Makmur menekankan penguatan ekonomi kerakyatan berbasis UMKM dan pariwisata. Berbagai event berskala besar digelar untuk mendorong aktivitas ekonomi kreatif, salah satunya lomba lari Semarang 10K yang diikuti sekitar 3.000 peserta dengan setengahnya berasal dari luar kota.

Pemerintah kota juga memberikan perlindungan sosial bagi pekerja rentan melalui program Pijar Semar dengan mendaftarkan 7.217 pekerja ke BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, berbagai kelompok masyarakat seperti guru keagamaan, marbot, pendidik PAUD, hingga petugas keagamaan menerima peningkatan insentif melalui program bisyarah.

Berbagai kebijakan fiskal pro-rakyat juga diterapkan, termasuk pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan bagi hampir 99 ribu wajib pajak serta pembebasan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan bagi lebih dari 97 ribu wajib pajak.

Sementara itu, konsep Semarang Tangguh menjadi pilar integrasi seluruh program pembangunan. Upaya penanganan banjir dan rob menunjukkan progres signifikan dengan pengurangan wilayah genangan hingga 230,98 hektare. Persentase wilayah terdampak banjir rob juga menurun dari 3,29 persen pada 2024 menjadi 2,71 persen pada 2025.

Berbagai proyek infrastruktur turut dikerjakan, mulai dari pemeliharaan jalan kota sepanjang 25,8 kilometer, perawatan puluhan saluran sungai, hingga penataan jembatan dan jalur pedestrian di berbagai wilayah kota.

Satu tahun perjalanan kepemimpinan Agustina dan Iswar menunjukkan upaya konsisten dalam membangun fondasi pembangunan kota yang lebih kuat. Dengan visi terpadu dan berbagai program strategis yang terus dijalankan, transformasi Semarang menuju kota maju, berkelanjutan, dan berkeadilan dinilai mulai menunjukkan hasil nyata.