Bos Raksasa Minyak Rusia Bongkar Fakta Mengejutkan! PBB, IMF hingga WTO Disebut Tak Lagi Berdaya
INDUSTRY.co.id - Jakarta – Pernyataan mengejutkan datang dari CEO Rosneft Oil Company, Igor Sechin. Dalam forum ekonomi bergengsi St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026, Sechin menilai sejumlah lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Dunia telah kehilangan kemampuan untuk menjalankan peran sebagai regulator global.
Menurut Sechin, sistem yang selama ini dikenal sebagai "tatanan berbasis aturan" (rules-based order) kini dinilai tidak lagi berjalan efektif.
Ia bahkan menyebut ekonomi dunia telah menjadi "sandera" kepentingan kelompok korporasi besar di sektor teknologi, militer, dan keuangan.
"PBB, WTO, IMF, dan Bank Dunia kehilangan kemampuan untuk bertindak sebagai regulator global," ujar Sechin dalam sesi Panel Energi SPIEF 2026 di St. Petersburg, Rusia.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam laporan berjudul "The Beginning of the End or the End of the Beginning: What Remains at the Bottom of Pandora’s Box?", yang mengulas perubahan tatanan dunia, dampak sanksi ekonomi, hingga risiko baru bagi sektor energi global.
Dalam paparannya, Sechin menyoroti penggunaan sanksi ekonomi yang menurutnya telah bergeser dari instrumen diplomasi menjadi alat persaingan yang tidak adil.
Ia mengungkapkan bahwa dalam 12 tahun terakhir, Rusia telah menjadi sasaran sekitar 32 ribu sanksi, sementara volume perdagangan global yang terdampak pembatasan ekonomi terus meningkat.
Menurutnya, fenomena tersebut memperlihatkan semakin melemahnya efektivitas mekanisme internasional dalam menjaga stabilitas perdagangan dunia.
Sechin juga memperingatkan potensi krisis yang dapat muncul dari ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz.
Jalur strategis tersebut tidak hanya menjadi urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia, tetapi juga jalur penting distribusi pupuk global. Gangguan pasokan di wilayah ini berpotensi memicu lonjakan harga energi sekaligus harga pangan.
Bagi Indonesia, kondisi tersebut bukan sekadar isu internasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai impor Indonesia pada 2024 mencapai US$235,2 miliar, termasuk impor migas sebesar US$36,3 miliar.
Artinya, setiap gejolak geopolitik yang mengganggu rantai pasok energi dunia berpotensi berdampak langsung pada inflasi, biaya produksi, hingga harga kebutuhan pokok di dalam negeri.
Baca Artikel Lainnya
Additive Solutions Resmi Berganti Nama Menjadi Barentz, Perkuat Ekspansi di Australia dan Selandia Baru
Kemendag Kawal Skema Imbal Dagang Indonesia-Filipina Bernilai Rp6,29 Triliun
Menperin Agus Gumiwang Pacu Transformasi Industri Lewat Forum BRICS PartNIR 2026 di Tiongkok
Dampak lain yang disorot adalah potensi kenaikan harga pupuk global. Bank Dunia mencatat indeks harga pupuk dunia melonjak lebih dari 12 persen pada kuartal I 2026, dipicu gangguan ekspor yang berkaitan dengan situasi di Selat Hormuz.
Bagi Indonesia yang masih mengandalkan sektor pertanian sebagai salah satu penopang ekonomi, kenaikan harga pupuk dapat meningkatkan biaya produksi petani dan berujung pada kenaikan harga pangan.
Dalam forum tersebut, Sechin juga mempromosikan Rute Laut Utara (Northern Sea Route) sebagai alternatif jalur perdagangan global.
Menurutnya, jalur tersebut mampu mempercepat pengiriman barang, memangkas biaya logistik, dan menjadi solusi di tengah meningkatnya risiko gangguan pada rute perdagangan tradisional.
Tak hanya soal energi dan perdagangan, Sechin turut menyoroti transformasi sistem keuangan global. Ia mengklaim nilai kapital fiktif dunia kini telah melampaui US$500 triliun, hampir lima kali lebih besar dibandingkan Produk Domestik Bruto (PDB) global.
Ia menilai penggunaan dolar AS sebagai instrumen sanksi telah mendorong banyak negara mencari alternatif sistem pembayaran internasional.
Sechin bahkan mengungkapkan Rusia berpotensi memperoleh tambahan pendapatan lebih dari US$400 miliar apabila sebelumnya meningkatkan porsi emas dalam cadangan devisanya.