Investasi AI di APAC Meningkat, Kualitas Data Gudang Jadi Tantangan Utama Transformasi Digital
INDUSTRY.co.id - Jakarta – Gelombang investasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus menguat di kawasan Asia-Pasifik (APAC).
Riset terbaru dari Accenture melalui laporan Pulse of Change menunjukkan sebanyak 86 persen pemimpin perusahaan di APAC berkomitmen meningkatkan investasi pada teknologi AI secara signifikan.
Namun, di balik tingginya ambisi transformasi digital tersebut, banyak perusahaan masih menghadapi kendala mendasar, yakni kualitas dan ketersediaan data operasional yang belum optimal. Data yang dibutuhkan untuk mendukung AI sering kali masih dicatat secara manual, tidak lengkap, dan terlambat masuk ke sistem.
Isu ini menjadi sorotan utama dalam acara commsult Executive Exchange yang digelar di Jakarta pada 6 Mei 2026. Mengusung tema "Leading in the Age of AI: How Technology is Transforming the Way Businesses Operate", forum tersebut menghadirkan sejumlah perusahaan besar seperti PT Bayer Indonesia, PT Astra Tol Nusantara, Garuda Yamato Steel, dan Sinar Mas Land untuk membahas tantangan implementasi AI dalam operasional bisnis.
Founder dan CEO commsult AG, Michael Buschner, mengungkapkan bahwa banyak perusahaan masih mengandalkan proses pencatatan manual dalam manajemen pergudangan.
Menurutnya, penggunaan pena dan kertas untuk mencatat aktivitas gudang membuat proses menjadi lambat dan rentan terhadap kesalahan. Data harus diukur, dikirim, lalu dimasukkan kembali ke dalam sistem seperti SAP, sehingga memakan waktu yang tidak sedikit.
"Kami masih menemukan banyak perusahaan yang bekerja dengan metode manual. Akibatnya, proses menjadi lebih panjang dan data yang dibutuhkan untuk analisis bisnis tidak tersedia secara cepat," ujarnya.
Padahal, AI membutuhkan data yang akurat, lengkap, dan real-time agar mampu menghasilkan analisis serta rekomendasi yang tepat. Tanpa fondasi data yang kuat, investasi besar dalam AI berisiko tidak memberikan hasil maksimal.
Dalam sesi fireside chat, CIO Sinar Mas Land, Stefanus Mulianto, menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada teknologi.
Menurutnya, perusahaan perlu menempatkan manusia dan proses bisnis sebagai prioritas utama sebelum mengadopsi teknologi baru.
"Manusia, proses, teknologi. Jangan dibalik. Perubahan tidak terjadi karena teknologi semata. Perusahaan harus memiliki pola pikir yang tepat, proses yang benar, lalu menggunakan teknologi sebagai alat untuk menyelesaikan masalah," jelas Stefanus.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Heru Sutadi, pakar digital dari ICT Institute. Ia menilai pemanfaatan AI dalam operasional logistik Indonesia mulai berkembang meskipun masih berada pada tahap awal.
"Tantangan terbesar saat ini adalah integrasi dengan sistem yang sudah ada serta kebutuhan data berkualitas tinggi. Namun tren digitalisasi logistik mendorong semakin banyak pelaku industri untuk mulai mencoba solusi berbasis AI," kata Heru.
Melihat tantangan tersebut, commsult memperkenalkan Ontego SAP Mobility, platform manajemen gudang berbasis mobile yang menghubungkan langsung aktivitas di lantai gudang dengan sistem SAP melalui tablet dan smartphone.
Solusi ini dirancang untuk menghilangkan jeda waktu antara aktivitas operasional dan pencatatan data dalam sistem perusahaan.
Salah satu keunggulan utama Ontego adalah integrasi data secara real-time ke SAP. Dengan demikian, data yang masuk ke sistem mencerminkan kondisi aktual yang sedang terjadi di lapangan. Selain itu, platform ini tetap dapat digunakan meski tanpa koneksi internet. Data akan tersimpan secara lokal dan otomatis tersinkronisasi ketika jaringan kembali tersedia.
Keunggulan lainnya adalah integrasi langsung dengan SAP tanpa memerlukan aplikasi tambahan, sehingga dapat membantu perusahaan menjaga keamanan data dan meminimalkan risiko kebocoran informasi.
Direktur commsult Indonesia, Leonardo Kurnia, mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang telah berinvestasi pada SAP kini dapat memaksimalkan sistem tersebut hingga ke area operasional gudang.
"Perusahaan di Indonesia yang telah menggunakan SAP kini bisa membawa sistem tersebut langsung ke lantai gudang secara real-time melalui perangkat yang digunakan pekerja sehari-hari. Ontego memungkinkan hal itu tanpa kompleksitas dan biaya tinggi dari pengembangan sistem yang disesuaikan," ujar Leonardo.
Ia menambahkan, implementasi standar Ontego dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 8 hingga 12 minggu, sehingga perusahaan dapat segera memperoleh manfaat dari digitalisasi proses pergudangan.